• hmi fe ub

    HMI FE UB

    HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM FE UB

  • calendar

    March 2011
    M T W T F S S
    « Sep   Jan »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  

Kapitalisme di Bumi Nusatara

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah : 275)

Kapitalisme berawal dari revolusi indusri Negara-negara eropa. Ideology ini berfokus kepada bentuk-bentuk privatisasi (kepemilikan pribadi) dan rente (Keuntungan yang berlebih). Siapalah yang tak mengenal istilah “dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapat untung yang sebesar-besarnya”. Semua orang juga akan berpendapat sama untuk mengatakan bahwa itu merupakan prinsip ekonomi. Selamat bagi anda untuk terus mesra bersama kapitalisme jika prinsip itulah yang mendasari jiwa ekonomi anda.

Adam smith cukup digandrungi berbagai penduduk dunia dengan risalah-risalah ekonomi kapitalis yang dia bawa. Ideology ini hanyalah berfikir tentang bagaimana memaksimalkan keuntungan. Seperti layaknya kebiasaan yang ada di masyarakat, bahwa orang yang tak dapat masuk ke dalam sebuah jalur resmi cenderung akan menjalanin jalur yang illegal. Namun bahkan seorang yang berada di tengah system legal pun masih memiliki kecenderungan untuk bermain di belakang system. Begitulah kapitalis menghalalkan segala cara demi keuntungan yang berujung pada individu.

Begitu radikalnya ideology ini yang tidak memiliki spirit ilahiah di dalamnya. Setiap individu bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Karena manusia hanya membutuhkan bagaimana muda, tua, dan mati. Khususnya di perkotaan, bentuk-bentuk individual seperti itu sungguh telah terasa. Dapatlah anda menerka seberapa kapitaliskah negeri kita saat ini?
Kapitalisme bergandeng rukun dengan liberalism dan semakin mesra saja ditopang kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini. “Kapitalisme malu-malu” (Neo-Lib) begitulah Mas Imron seorang alumni komisariat menyebutnya. Salah satu contoh kebijakannya adalah privatisasi BUMN. Bagaimana setiap pemilik modal dapat ber investasi atau bahkan mengakuisisi sebuah perusahaan BUMN. Swastanisasi merupakan solusi yang dianggap paling tepat bagi pemerintah untuk meningkatkan kualitas saat ini.

Salah satu Maksud dan Tujuan dari pendirian BUMN menurut UU No. 19 Tahun 2003 adalah. BUMN merupakan sebuah badan usaha yang bertugas sebagai salah satu sumber pendapatan pemerintah. Tujuannya adalah untuk mensejahterakan masyarakat dengan membuka lapangan kerja baru dan profit yang terkandung dihasilkannya.
Bertolak belakang ketika pemerintah telah kehilangan control atas perangkatnya sendiri. Hadirnya BUMN tak mampu mengatasi permasalahan yang muncul. Listrik bukan lah hal yang murah bagi rakyat, pupuk dan breras bersubsidi pun entah ra’ib kemana. Sedang uang rakyat terus dikucurkan demi harapan-harapan kosong. Pemerintah bukanlah lagi pihak berwenang dalam pengambilan keputusan BUMN. Pemilik modal seolah mengkerdilkan nyali pemimpin Negara yang “pernah” menjadi macan Asia ini.

Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Merasa pernah kami mendengar kalimat ini dalam pelajaran IPS di sekolah-sekolah dasar. Lalu kenapa Negara membiarkan exxon mobil, Freeport beserta gerombolannya merenggut kekayaan bumi nusantara ini.
Praktik-praktik kapitalis rupanya telah mendarah daging di negeri ini. Satu hal yang membuat kapitalis dapat bertahan hingga kini. Ideology ini mampu menjabarkan pemikirannya melalui rumus-rumus matematis. Seperti berbagai rumus yang dipelajari berbagai kalangan pelajar. Padahal ketika dipahami secara filosofis, rumus-rumus tersebut tidaklah seperti yang diteorikan. Terbuktilah hingga sekarang masalah sistem perekonomian masih carut marut.

Di sinilah islam hadir sebagai solusi. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Baqarah : 275 yang tertulis di awal artikel ini. Islam mengajarkan untuk berdagang dan menghindari riba’. Dalam Islam uang bukanlah komoditas yang diperjual belikan. Terbuktilah hal tersebut memang baik, karena jika jumlah uang yang beredar di dunia maya lebih banyak dari yang terdapat di sector riil akan menimbulkan invlasi. Selama bisnis jual beli uang atau yang sejenisnya masih marak, tak kan pernah selesai masalah ekonomi di Negara ini.

Mari kita tingkatkan sector riil dan tinggalkan bisnis moneter. Kita ciptakan Indonesia yang mandiri dengan pengembangan sumberdayanya melalui perdagangan. Dengan jiwa-jiwa entrepreneur muda yang telah dibekali pemikiran rabbani, insyaallah akan menciptakan atmosfer baru dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Karena bisnis bukan hanya tentang berapa untung yang dicapai, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dapat sejahtera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: